Rabu, 21 November 2018 | 17.26 WIB
KiniNEWS>Regional>Sumatera Utara>Hal-hal yang Paling Dirindukan Alumni Pesantren Ketika Tak Lagi Mondok

Hal-hal yang Paling Dirindukan Alumni Pesantren Ketika Tak Lagi Mondok

Reporter : Nur Fatimah | Senin, 22 Oktober 2018 - 15:40 WIB

IMG-7844

Salahsatu santri di Ponpes Syech Ahmad Daud Nabundong Baru di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Batang Onang Kabupaten Padang Lawas Utara Sumatera Utara. (KiniNews/Nur Fatimah)

Medan, kini.co.id
Menjadi santri di pondok pesantren merupakan kebanggaan tersendiri bagi alumni-alumni ponpes yang tersebar di seluruh Sumatera Utara.

Bagaimana tidak, meski belajar layaknya sekolah biasa, pesantren ternyata punya banyak kelebihan terutama di bidang keagamaan.

Banyak hal-hal seru ketika mondok yang tidak akan dirasakan oleh anak-anak yang bersekolah di sekolah umum.

Salahsatu alumni pondok pesantren Syekh Ahmad Daud (PPSDA) Nabundong Baru di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Batang Onang Kabupaten Padang Lawas Utara Sumatera Utara, Julfian Harahap mengatakan sangat merindukan saat-saat dimana dirinya menjadi santri.

Ia mengatakan selain mempelajari pelajaran biasa, ponpes juga mengajarkan ilmu-ilmu agama seperti dari Ilmuh Nahwu, Shorof, Tafsir, Ilmu Kalam, Ilmu Mantiq, Ilmu Bayan dan lainnya.

Serunya, pesantren tempat ia mondok berada di kaki bukit dan di Pinggiran Hutan Nabundong, sehingga jauh dari keramaian. Mereka hanya diperbolehkan libur dan keluar pesantren pada hari Rabu, bertepatan dengan hari pekan, yakni hari dimana pedagang pasar ramai berjualan.

“Kami libur hari Rabu dan diizinkan berbelanja di pasar mayanggor di situlah santri belanja untuk keperluan Bahan makanan selama seminggu,” ungkap Alumni FEB USU ini.

Melirik Santriwati

Ia pun menceritakan bagaimana mereka para santri memang tinggal di pondok-pondok kecil selama nyantri. Disitulah mereka tidur, belajar, masak dan makan secara mandiri.

Benar-benar mandiri yakni harus masak sendiri, mencuci dan mengurus diri secara mandiri.

“Wajib bangun sebelum jam 4 pagi, sementara kami juga mujakaro tiap malam,” katanya.

Adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi Julfian ketika dapat melirik santriwati di hari libur dan jam kebersihan.

Hal itu karena tempat santri dan santriwati terpisah tentunya.

“Hal lain yang dirindukan adalah menangkap ikan beramai-ramai namanya makkahap di aek Nabundong dan Maniruk. Serta masak mie instan bersama-sama. Jangan salah, mie instan pada waktu itu adalah makanan luar biasa yang jarang kami dapat,” katanya.

Terbiasa Mandiri

Lain lagi cerita alumni Pondok Pesantren Modern Baharuddin Padangsidimpuan Sumut, Balyan Oslerking Siregar.

Karena tinggal di ponpes modern, ia pun tak merasakan bagaimana masak sendiri. Pihak pesantren sudah menyediakan makanan.

Begitupun untuk urusan mencuci baju, para santri harus melakukannya sendiri.

“Dulu tidak ada laundry jadi terbiasa nyuci baju sendiri dan kebawa sampai kuliah bahkan bekerja. Mandirinya sudah dari dulu,” kata alumni UIN SU ini.

Soal pelajaran, sama seperti Ponpes PSDA mereka juga mempelajari ilmu agama, kegiatan pengembangan diri, olahraga dan lainnya.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Regional Terkini Lainnya
Sumatera Utara - Senin, 19 November 2018 - 21:25 WIB

‘Ngoce’ Ala Gema Paluta, Mahasiswa Ambil Peran Berantas Korupsi

Mahasiswa sebagai generasi muda harus aktif dalam pemberantasan korupsi yang kini menggurita di berbagai lapisan masyarakat.Perhatian mahasiswa dalam pemberantasan korupsi ...
Kepulauan Riau - Senin, 19 November 2018 - 16:33 WIB

Dukun mesum yang jual istri, anak, dan adik ipar, akhirnya ditangkap

PELAKU praktik pencabulan berkedok perdukunan di Batuaji diringkus Polresta Barelang. Pelaku berinisial MAZ menjalani pemeriksaan sejak 3 hari di ruang ...
Kepulauan Riau - Minggu, 18 November 2018 - 16:43 WIB

Dukun mesum di Batam korbankan anak, istri dan adik ipar jadi budak nafsu pasiennya

SEORANG warga Batu Aji, Batam, yang mengaku dukun, berinisial MAZ (45), tega menjual keluarga sendiri kepada temannya. MAZ. Tanpa pikir ...
Kepulauan Riau - Jumat, 16 November 2018 - 15:06 WIB

Orang tua bidan yang disuntik 56 kali heran pelaku tidak ditahan

ORANGTUA bidan Wati, yang disuntik dokter Yusrizal sebanyak 56 kali di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, mengaku heran pelaku tidak ditahan ...
Bangka Belitung - Jumat, 16 November 2018 - 12:32 WIB

Akibat biaya, 1200 warga Pangkalpinang tidak miliki surat nikah

WALI Kota Pangkalpinang Maulan Aklil mengundang seluruh warga yang belum memiliki surat nikah untuk mengikuti nikah massal pada 22 Desember ...
Sumatera Utara - Kamis, 15 November 2018 - 19:54 WIB

Ini Usaha BI Tingkatkan Kapasitas Ekonomi Daerah di Sumut

Perkembangan ekonomi daerah memiliki pengaruh yang signifikan untuk kemajuan ekonomi secara nasional. Untuk itu, Bank Indonesia (BI) Sumut berfokus dalam ...