Senin, 11 Desember 2017 | 10.36 WIB
KiniNEWS>Regional>Sumatera Utara>Atasi banjir di Medan butuh terobosan besar

Atasi banjir di Medan butuh terobosan besar

Sabtu, 2 Desember 2017 - 15:09 WIB

IMG-7595

Sejumlah warga melintasi banjir yang merendam pemukiman penduduk di pinggiran Sungai Deli, Kecamatan Medan Maimun, Medan, Sumatera Utara, Selasa (7/11). Foto Istimewa.

Medan, kini.co.id – Ahli konstruksi dan tata ruang Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Ade Faisal, mengatakan, permasalahan banjir di Kota Medan sudah sangat kompleks dan cukup lama dibiarkan tanpa solusi yang tepat.

Kondisi itu disebabkan adanya kesalahan dalam kebijakan pembangunan di Kota Medan yang menyebabkan ibu kota Provinsi Sumatera Utara itu sangat rentan dengan banjir.

“Maka dari itu dibutuhkan terobosan besar yang bersifat “revolusioner” jika ingin mengatasi banjir yang kerap terjadi, terutama jika menerima hujat lebat,” kata Ade di Medan, Sabtu (2/12).

Ade menjelaskan sejak masa kolonial Belanda, Medan sudah memiliki kerawanan terhadap banjir karena secara geogarfis, lokasinya berada di bagian bawah dan menjadi lintas air yang akan mengalir ke laut.

Karena itu, ketika masih menguasai Indonesia dan terkhusus Medan, Belanda membuat sejumlah kebijakan untuk mengatasi kerawanan tersebut sehingga Medan tidak terendam meski menerim curah hujan lebat.

Di antaranya dengan menyiapkan saluran drainase yang lancar sehingga tidak menghambat aliran yang dapat menyebabkan air meluber ke jalanan dan pemukiman masyarakat.

Kemudian, dibangun lorong penyaluran air dalam ukuran besar jika Kota Medan menerima curah hujan dengan intensitas tinggi.

Beberapa lorong air itu ada dibangun di bawah stasiun kereta api dan sekitar Lapangan Merdeka Medan. “Lorongnya cukup besar, setinggi manusia dewasa,” katanya.

Namun karena pengaruh pembangunan belakangan ini, lorong air tersebut telah mengalami sendimentasi (pendangkalan), bahkan ada yang sudah ditutup sehingga air tidak dapat dialirkan lagi.

Kemudian, pada masa kolonial dan awal kemerdekaan, ada kebijakan agar pembangunan tidak menumpuk di sekitar inti kota, serta menutup ruang terbuka hijau dan area resapan air.

Kini, kata Faisal, daerah resapan air utama untuk Kota Medan yakni Sibolangut, Pancurbatu, dan Johor telah penuh dengan perumahan yang pola pembangunannya mengurangi potensi resapan air.

Karena tidak mampu diresap lagi, air dari daerah tinggi itu mengalir ke Kota Medan sebelum berakhir ke laut melalui sejumlah sungai yang ada di daerah itu.

Disebabkan lorong tidak ada lagi, ditambah saluran drainase tidak berfungsi dengan baik, maka air yang ada akan melimpah ke badan jalan, pemukiman masyarakat, dan berbagai bangunan yang kondisinya rendah.

Kondisi itu diperparah dengan keberadaan bangunan di berbagai area resapan air sehingga air tidak dapar meresap lagi ke dalam Bumi.

“Pusat resapan air di dataran tinggi ada, lorong air tidak berfungsi, area resapan di kota habis, dan drainase juga tidak berfungsi baik, kemana lagi air mau mengalir,” kata Faisal seperti dilansir Antara.

Karena itu, menurut ketua Program Studi Konstruksi Faklutas Teknik UMSU tersebut, Pemkot Medan perlu melakukan terobosan besar untuk mengatasi ancaman banjir.

Selain mengurangi pembangunan di inti kota yang dapat mengurangi resapan air, perlu dibangun lorong air di bawah tanah untuk mengalirkan air dalam jumlah besar.

Pemerintah Kota Medan dapat meniru pola pembangunan di Kuala Lumpur, Malaysia yang mampu membuat fungsi ganda saluran bawah tanah.

“Kalau saat normal, salurannya dapat dijadikan operasional transportasi massal, namun saat hujan, digunakan untuk mengalirkan air,” katanya.

Sebelumnya, hujan lebat yang terjadi di Medan pada Jumat (1/12) malam menyebabkan banyak area di Kota Medan mengalami banjir, salah satunya di daerah Medan Deli. []

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Regional Terkini Lainnya
Ivan Iskandar Batubara siap dampingi Tengku Erry di Pilgub Sumut
Sumatera Utara - Senin, 11 Desember 2017 - 09:10 WIB

Ivan Iskandar Batubara siap dampingi Tengku Erry di Pilgub Sumut

Mengikuti jejak Sandiaga Salahudin Uno yang melepas jabatan Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) dan berkiprah di politik, hal itu ...
Pelanggaran HAM di Sumut masih tinggi
Sumatera Utara - Senin, 11 Desember 2017 - 06:48 WIB

Pelanggaran HAM di Sumut masih tinggi

Kasus pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) di Sumatera Utara masih sangat tinggi dan memprihatinkan. Berdasarkan catatan Komisi Orang Hilang dan ...
Banyak dikeluhkan, penggagas festival durian Sindangwangi 2017 bungkam
Jawa Barat - Senin, 11 Desember 2017 - 00:02 WIB

Banyak dikeluhkan, penggagas festival durian Sindangwangi 2017 bungkam

Pihak penggagas dan panitia festival durian Sindangwangi 2017 masih belum memberikan jawaban terkait banyaknya keluhan pengunjung yang sudah membeli tiket ...
PAN usung Edy Rahmayadi di Pilgub Sumut 2018
Sumatera Utara - Minggu, 10 Desember 2017 - 20:42 WIB

PAN usung Edy Rahmayadi di Pilgub Sumut 2018

Partai Amanat Nasional (PAN) resmi mencalonkan mantan Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi dalam pemilihan gubernur Sumatera Utara 2018.Dukungan ...
Panitia Festival Durian Sindangwangi 2017 bakal diperkarakan
Jawa Barat - Minggu, 10 Desember 2017 - 20:26 WIB

Panitia Festival Durian Sindangwangi 2017 bakal diperkarakan

Banyaknya keluhan masyarakat terkait kekecewaannya saat mengunjungi Festival Durian Sindangwangi 2017 di Pasar Ikan, Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten ...
KLHK segel limbah medis di TPS  Cirebon
Jawa Barat - Minggu, 10 Desember 2017 - 19:27 WIB

KLHK segel limbah medis di TPS Cirebon

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyegel tempat pembuangan sementara (TPS) yang berisikan limbah medis di Cirebon, Jawa Barat. "Saat ini ...