Minggu, 19 November 2017 | 11.36 WIB
KiniNEWS>Regional>Jawa Barat>Usung Ridwan Kamil, Pengamat: Golkar Diambang Perpecahan

Usung Ridwan Kamil, Pengamat: Golkar Diambang Perpecahan

Reporter : Bayu Putra | Senin, 13 November 2017 - 10:01 WIB

IMG-7298

Ridwan Kamil (dok pribadi)

Jakarta, kini.co.id – Partai Golkar sudah resmi akan mengusung Wali Kota Bandung Ridwan Kamil untuk maju sebagai calon gubernur di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018 mendatang.

Tentunya keputusan Golkar sangat mengejutkan karena mengusung Ridwan Kamil yang bukan kadernya dibandingkan Dedi Mulyadi selaku kader sekaligus Ketua DPD Golkar Jawa Barat.

“Bukan tidak mungkin terjadi perpecahan di tubuh partai berlambang pohon beringin tersebut, disebabkan berbeda kehendak atau aspirasi suara akar rumput (grasroot) antara pengurus pusat (DPP Golkar) dengan pengurus DPD Golkar Jawa Barat. Awalnya Golkar dipastikan mengusung kader internalnya yaitu Dedi Mulyadi sebagai cagub atau cawagub yang diusung Golkar, namun di tengah jalan terjadi patahan dukungan dan perubahan cuaca politik secara ekstrim,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago dalam siaran persnya kepada wartawan, (13/11).

Golkar memutuskan tidak mengusung Dedi Mulyadi, lanjutnya, DPP Golkar tentu punya alasan dan pertimbangan sendiri mengapa tak mengusung kader internalnya sendiri sebagai calon gubernur (cagub) Jawa Barat.

Pertama, alasan racikan popularitas, akseptabilitas dan elektibilitas yang kurang begitu mengembirakan.

Kedua, alasan finansial, kalau golkar mengusung Dedi Mulyadi, DPP dan pengurus Golkar bisa saja kantong kering, tidak ada setoran mahar atau perahu parpol kalau kadernya yang diusung.

Ketiga, Dedi Mulyadi mungkin bukan bagian gerbong Ketua Umum DPP Golkar, Setya Novanto. Artinya mungkin saja Dedi Mulyadi bukan anak emas Setnov.

“Keempat, Dedi Mulyadi bisa saja, dugaan saya, beliau kurang piawai dan mahir untuk melobi dan mengunci figur serta tokoh sentral atau elite penentu di DPP Golkar,” jelas lulusan S2 Jurusan Politik Universitas Indonesia (UI) ini.

Golkar pada akhirnya mungkin berpikir realistis, walaupun pada saat yang sama melakukan blunder politik. Pertama, golkar tidak percaya dengan benih rahim kaderisasinya sendiri.

Ini salah satu pemantik terjadi perpecahan di tubuh Golkar, sehingga kader Golkar DPD Jawa Barat belum tentu all out habis mendukung Ridwan Kamil.

Apalagi ada kabar Ridwan Kamil akan bergabung menjadi kader Golkar. Akar rumput Golkar, terutama di Jawa Barat, tentunya akan semakin memanas.

Kedua, dealektika meritokrasi tidak berjalan dengan baik, bagaimana fatsun menghargai dan memprioritaskan kader potensial internal sendiri yang punya success story atau prestisius di Jawa Barat. Bagaimana logikanya Golkar tidak mengusung kadernya sendiri baik sebagai cagub maupun cawagub?

Kasus dan pengalaman yang sama bukan tidak mungkin bisa kembali terulang seperti konflik antara pengurus pusat PDIP dengan pengurus di Jakarta saat di Pilgub DKI 2017.

Perbedaan tajam dukungan suara akar rumput (arus bawah) menginginkan kader sendiri maju seperti Boy Sadikin atau Djarot sebagai cagub. Boy Sadikin kemudian memutuskan keluar dan mendukung Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Memang dalam terminologi politik ada istilah bandwagon atau lokomotif effeck, parpol bakal mengusung calon yang bakal terpilih atau punya kans lebih besar untuk menang.

Namun Golkar juga jangan sampai kualat, tidak menghargai kadernya sendiri untuk bertarung dan nampak tak percaya diri.

“Hitung-hitungan kalkulasi politik di atas kertas, boleh-boleh saja. Namun jangan sampai terjadi preseden buruk dan tertanam pikiran negatif kader sendiri. Ngapaian capek-capek berpikir dan kerja keras berdarah-darah membesarkan partai. Bahkan sekelas Ketua DPD Jabar saja, tidak dihargai partainya sendiri. Ini sangat miris,” pungkasnya.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Regional Terkini Lainnya
Rukun Jurnalis Bekasi Adakan Diskusi, Ini yang Dibahas
Jawa Barat - Sabtu, 18 November 2017 - 21:32 WIB

Rukun Jurnalis Bekasi Adakan Diskusi, Ini yang Dibahas

Pembangunan Kota Bekasi yang sangat pesat dalam 20 tahun terakhir, khususnya dari sisi pembangunan fisik harus ditunjang dengan pembangunan sumber ...
Edy Rahmayadi diusung Gerindra jadi Cagub di Sumut
- Sabtu, 18 November 2017 - 19:56 WIB

Edy Rahmayadi diusung Gerindra jadi Cagub di Sumut

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) resmi mengusung Pangkostrad Letnan Jenderal TNI Edy Rahmayadi sebagai calon gubernur Sumatera Utara dalam ...
Hingga tiga bulan kedepan, Pemprov DKI siaga bencana
DKI Jakarta - Sabtu, 18 November 2017 - 19:38 WIB

Hingga tiga bulan kedepan, Pemprov DKI siaga bencana

Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana di Ibu Kota Jakarta, khususnya bencana banjir pada musim penghujan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ...
Bahasa Lokal Sebagai Perekat Keberagaman Etnik
Sumatera Utara - Sabtu, 18 November 2017 - 15:03 WIB

Bahasa Lokal Sebagai Perekat Keberagaman Etnik

Mendukung upaya pemerintah dalam menggalakan kajian terhadap bahasa-bahasa lokal yang ada di Indonesia, Program Studi (Prodi) Magister Linguistik (PMSL) Fakultas ...
Tahun Depan, Pembangunan Persulukan Sibio-bio Dilanjutkan
Sumatera Utara - Sabtu, 18 November 2017 - 14:37 WIB

Tahun Depan, Pembangunan Persulukan Sibio-bio Dilanjutkan

Bupati Labuhanbatu Utara (Labura) H. Kharuddin Syah, SE bersama Camat Aek Natas Drs. Adlin Sinaga, M.Si mengunjungi jamaah persulukan di ...
Ketika Jokowi minta peserta Munas KAHMI beri  applause untuk Anies Baswedan
Sumatera Utara - Sabtu, 18 November 2017 - 11:50 WIB

Ketika Jokowi minta peserta Munas KAHMI beri applause untuk Anies Baswedan

Presiden Jokowi meminta Alumni Himpunan Mahasiswa Islam memberikan applause untuk Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menghadiri Musyawarah Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa ...