Kamis, 22 Februari 2018 | 00.05 WIB
KiniNEWS>Regional>Sumatera Utara>Alumni USU Anti-Penindasan: Kami Tidak Terima Ada Pembantaian di Kampus

Alumni USU Anti-Penindasan: Kami Tidak Terima Ada Pembantaian di Kampus

Reporter : Yudi | Jumat, 27 Oktober 2017 - 09:50 WIB

IMG-7104

Pertemuan Alumni USU Anti Penindasan terkait kasus Imanuel Silaban. (KiniNews/Nur Fatimah)

Medan, kini.co.id – Kasus Imanuel Silaban, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB-USU) semakin mendapat perhatian banyak orang terutama alumni-alumni USU.

Sebagai bentuk kepedulian sekelompok alumni yang menamakan dirinya Alumni USU Anti Penindasan berkomitmen untuk mengawal kasus dugaan pembantaian mahasiswa oleh oknum satpam di Kampus USU hingga korban mendapat keadilan.

(Baca juga: Mahasiswa FIB USU Korban Pengeroyokan Satpam Masih Kritis)

Bukan itu saja, para alumni yang berasal dari berbagai daerah di Sumut dan Indonesia ini juga berharap pembantaian dan kekerasan terhadap mahasiswa tidak pernah lagi terjadi di kemudian hari.

“Ini pembantaian, saya katakan pembantaian dan mengarah kepada pembunuhan berencana. Sebab korban sempat dicari sekelompok satpam yang membawa sajam dan benda tumpul lalu dibantai, dirantai, dan menghilang tiba-tiba sudah ada di RS Bhayangkara,” jelas Koordinator Alumni USU Anti Penindasan, Jan Butar Butar, Jumat (27/10/2017).

Jan juga menentang keras, pembantaian Imanuel atas alasan apapun termasuk perkelahiannya dengan oknum satpam sebelum kejadian.

“Kita tahu apa latarbelakang pembantaian ini. Nuel sebelumnya terlibat perkelahian dengan Satpam, sehingga dia pun dilaporkan ke polisi. Harusnya sudah sampai disitu, biar polisi bekerja. Ini kan tidak, di kampus sekelas USU, hukum rimba masih berlaku, satpam balas dendam, dan terjadi pembantaian,” kata dia.

(Baca juga: Inilah Kronologis Penyebab Mahasiswa USU Diserang Satpam)

Mirisnya, lanjut Jan, oknum dosen dan juga sebagian alumni justru memandang kasus ini sebagai hal yang pantas didapatkan oleh “mahasiswa bandel”. Dan mulai mengarahkan opini pada narkoba, seks bebas dan wanprestasi akademik.

“Kita minta berhentilah menyudutkan mahasiswa sendiri, kalimat seperti itu seolah membenarkan dan membolehkan adanya pembantaian. Karena dia mahasiswa yang “bandel” jadi wajar dibantai seperti itu? Tidak dong! Apapun ceritanya, kita tidak terima ada mahasiswa dibantai di kampus,” tegasnya.

Akhirnya ia menegaskan akan menyampaikan kasus ini hingga ke Komnas HAM dan Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenrisetdikti) di Jakarta jika tidak ada kebijakan tegas dari USU terhadap satpam-satpam yang terlibat.

Adapun poin pernyataan dari Alumni USU Anti Penindasan tersebut ialah:

1. Mengutuk keras atas tindakan kriminilisasi mahasiswa usu

2. Alumni meminta aparat dan penegak hukum khususnya Kapolda, mempercepat kasus kekerasan satpam terhadap Mahasiswa USU.

3. Alumni menolak keras pemanisme kepada mahasiswa USU.

4. Imanuel Silaban korban terakhir kekerasan mahasiswa di seluruh Indonesia.

Pergerakan ini juga didukung oleh Alumni USU yang kini duduk di DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan yang mengecam pembantaian tersebut.

Sutrisno bahkan menyatakan USU harus bertanggungjawab dalam kasus ini.

Ia bahkan akan mendatangi Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk melakukan tes urine kepada satpam-satpam di USU.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Gubernur FIB USU, perwakilan Gema Prodem dan perwakilan Bakumsu (pendamping hukum bagi Imanuel).

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Regional Terkini Lainnya
Personil TNI-Polri bersihkan material menutup lahar dingin Sinabung
Sumatera Utara - Rabu, 21 Februari 2018 - 21:37 WIB

Personil TNI-Polri bersihkan material menutup lahar dingin Sinabung

Ratusan personil gabungan TNI-Polri melaksanakan gotong royong membersihkan material berupa batu dan kayu yang menutup arus aliran lahar dingin gunung ...
Calon kepala daerah dilarang kampanye di pesantren
Jawa Barat - Rabu, 21 Februari 2018 - 21:01 WIB

Calon kepala daerah dilarang kampanye di pesantren

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Jawa Barat mengingatkan pasangan calon kepala daerah agar tidak berkampanye di pesantren. Larangan itu sesuai ...
Waspada! 3 Pabrik di Bekasi Belum Kantongi IPLC
Jawa Barat - Rabu, 21 Februari 2018 - 20:11 WIB

Waspada! 3 Pabrik di Bekasi Belum Kantongi IPLC

Sedikitnya, ada tiga dari 14 pabrik yang berdiri di sepanjang bantaran Kali Bekasi belum mengantongi Izin Pembuangan Limbah Cair (IPLC).Bahkan, ...
Satpam Sekolah Jadi Pengedar Sabu, Berakhir Dipenjara
Jawa Barat - Rabu, 21 Februari 2018 - 19:50 WIB

Satpam Sekolah Jadi Pengedar Sabu, Berakhir Dipenjara

Seorang Satpam sekolah berinisial AS (33) rupanya merangkap kariernya sebagai pengedar sabu. Selain pengedar, AS juga sebagai pemakai yang mana ...
75 Persen SMP Swasta Bekasi Ditargetkan Laksanakan UNBK
Jawa Barat - Rabu, 21 Februari 2018 - 18:59 WIB

75 Persen SMP Swasta Bekasi Ditargetkan Laksanakan UNBK

Dinas Pendidikan Kota Bekasi menargetkan pada tahun 2018 ini, minimal 75 persen SMP Swasta di dan 100 persen SMP Negeri ...
5 SMP Negeri di Bekasi Tak Dapat Lakukan UNBK
Jawa Barat - Rabu, 21 Februari 2018 - 18:40 WIB

5 SMP Negeri di Bekasi Tak Dapat Lakukan UNBK

Dinas Pendidikan Kota Bekasi menunda pengadaan komputer untuk pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) bagi 5 SMP Negeri Kota Bekasi.Soalnya, ...