Rabu, 18 Oktober 2017 | 21.29 WIB
KiniNEWS>Regional>Jawa Barat>Waduh, Siswa di Bekasi Batal jadi Duta Sekolah Diduga Karena Bapaknya Ngojek

Waduh, Siswa di Bekasi Batal jadi Duta Sekolah Diduga Karena Bapaknya Ngojek

Reporter : Ardiansyah | Sabtu, 12 Agustus 2017 - 11:53 WIB

IMG-6300

Ilustrasi

Bekasi, kini.co.id – Bagaimana perasaan seorang siswa ketika mendapatkan tindakan diskriminatif dari guru di sekolah, hanya karena orang tuanya tidak kaya?

ERA adalah siswa kelas 7 di SMP Negeri 41 Kota Bekasi. Belum lama ini, seorang guru memilihnya menjadi duta sekolah untuk menyambut kedatangan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, dalam waktu dekat.

“Dari satu sekolah, dipilihlah dua orang. Satu perempuan, satu laki-laki. Semuanya kelas 7. Ini untuk keperluan menyambut kedatangan wali kota,” kata Taufan, bapak ERA, mengawali kisahnya, Sabtu (12/8/2017).

Seorang guru menjelaskan kepada ERA, bahwa dalam penyambutan nanti, duta mesti mengenakan pakaian adat dan dirias. Sebagai anak remaja, ERA tentu sangat gembira.

Di hari yang sama, ERA ditanya mengenai latar belakang orangtuanya. Terutama informasi pekerjaan bapaknya. Ia menjawab apa adanya bahwa bapaknya merupakan pengemudi ojek online Grab.

“Setelah tahu informasi latar belakang profesi saya, guru tersebut kemudian mengatakan kepada anak saya mengenai pencoretan namanya. Nama anak saya diganti dengan yang lain tanpa penjelasan apa pun,” cerita Taufan.

Pulang sekolah, ERA menangis. Sang ibu kemudian menanyakan ada apa gerangan. ERA pun menceritakan perihal pencoretan namanya dari daftar duta sekolah. ERA berkesimpulan namanya dicoret karena bapaknya berprofesi sebagai pengemudi ojek online.

“Anak saya yang mengambil kesimpulan seperti itu, dia kemungkinan tertekan secara psikis. Istri saya akhirnya memberi pemahaman agar anak saya tidak jatuh mentalnya,” kata Taufan.

ERA diberi penjelasan oleh ibunya, namanya mungkin dicoret agar kegiatan menjadi duta sekolah tidak membebani bapaknya. Sebab, untuk menyewa pakaian adat dan aksesoris lainnya, mengeluarkan uang tidak sedikit.

“Setelah diberikan pemahaman seperti itu oleh istri saya, anak saya agak lega. Tapi saya tidak tahu apa yang tersimpan di pikirannya. Namanya anak, pasti minder,” cerita Taufan.

Taufan berharap, kejadian seperti itu tidak terulang kepada siswa lain. Seorang guru harus lebih hati-hati terhadap psikologis anak, jangan sampai membuatnya merasa terdiskriminasi, apalagi terintimidasi.

“Saya dengar Kota Bekasi punya program menjadi Kota Ramah Anak. Artinya, sebisa mungkin, anak-anak harus mendapatkan perhatian khusus, termasuk psikisnya,” kata Taufan, menutup ceritanya.

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi ketika dikonfirmasi mengatakan, sekolah tidak bisa menghambat aktivitas siswa hanya karena faktor di luar sekolah.

“Tidak ada urusannya (sekolah dengan pekerjaan orang tua siswa),” katanya.

Rahmat Effendi mengatakan akan menindak lanjuti laporan tersebut.

“Nanti kami urus, sejauh mana (duduk perkara) informasi itu,” tandas pria akrab disapa Pepen.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Regional Terkini Lainnya
Hamdalah, 6.429 KK Warga Bekasi Terima Uang Bau
Jawa Barat - Rabu, 18 Oktober 2017 - 19:26 WIB

Hamdalah, 6.429 KK Warga Bekasi Terima Uang Bau

Sebanyak 6.429 Kartu Keluarga di Kelurahan Cikiwul menerima dana kompensasi atau 'uang bau' dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk triwulan ...
Pak Kapolri, Warga Bekasi Minta Pembangunan Polsek di Wilayah Ini
Jawa Barat - Rabu, 18 Oktober 2017 - 19:21 WIB

Pak Kapolri, Warga Bekasi Minta Pembangunan Polsek di Wilayah Ini

Warga Bekasi Timur meminta agar Kepolisian Republik Indonesia membangun kantor Kepolisian Sektor Bekasi Timur. Soalnya, warga setempat merasa disulitkan untuk ...
Aher: Pemprov Tak Larang Transportasi Daring
Jawa Barat - Rabu, 18 Oktober 2017 - 16:55 WIB

Aher: Pemprov Tak Larang Transportasi Daring

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menegaskan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat tidak pernah melarang transportasi berbasis aplikasi online (daring) untuk ...
Jenderal ‘Naga Bonar’ tak bisa penuhi undangan PDIP
Jawa Barat - Rabu, 18 Oktober 2017 - 14:16 WIB

Jenderal ‘Naga Bonar’ tak bisa penuhi undangan PDIP

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan tidak bisa memenuhi undangan dari PDI Perjuangan yang akan mengundang sembilan tokoh potensial sebagai ...
Kota Bekasi Minta Dijadikan Skala Prioritas DKI
Jawa Barat - Rabu, 18 Oktober 2017 - 12:46 WIB

Kota Bekasi Minta Dijadikan Skala Prioritas DKI

Pemerintah Kota Bekasi meminta pada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru, Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno agar memandang ...
Anies-Sandi Jadi Gubernur, Walikota Bekasi Minta Kenaikan Dana Hibah
Jawa Barat - Rabu, 18 Oktober 2017 - 10:00 WIB

Anies-Sandi Jadi Gubernur, Walikota Bekasi Minta Kenaikan Dana Hibah

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menilai, Kota Bekasi memiliki hubungan yang erat dengan Pemprov DKI Jakarta. Karena itu, ia meminta ...